Ketawa Ketiwi Betawi: Humor dari Batavia Sampai Jabodetabek

0
230

2118016956_20100213034927_buku-ketawa ketiwi
Buku ini menawarkan sejarah humor yang terjadi di Jakarta.

DATA BUKU

    • Judul Buku: Ketawa Ketiwi Betawi: Humor dari Batavia Sampai Jabodetabek
    • Jenis Buku: Umum
    • Genre: Humor
    • Penulis: Abdul Chaer
    • Penerbit: Masup Jakarta
    • Bahasa: Indonesia
    • Cetakan Pertama:  Mei 2007
    • Tebal Buku: xxxiv + 280
    • Dimensi Buku (P x L): –
    • No ISBN: 978-979-25-7293-3
    • Website Resmi Penerbit: –
    • Harga: 
        • Toko Gunung Agung: Rp.50.000 
        • (Harga Update Maret 2010)


SINOPSIS

Buku Ketawa Ketiwi Betawi ini adalah upaya Chaer memperlihatkan kekayaan masyarakat Jakarta yang lain, yaitu humor. Humor dicomot dari masyarakat asli maupun urban Jakarta. Sumbernya adalah sejumlah media massa, tetapi humor yang di Jakarta sesungguhnya masih bersifat lisan itu mayoritas dikumpulkan Chaer dari data lisan masyarakat.Wajar jika banyak humor di sini bukanlah fiksi belaka, “tapi satoe tjerita njang betoel kedjadian” di Betawi-Jakarta. Meliputi tema sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Termasuk juga humor mengenai tokoh-tokoh terkemuka. Terentang dari masa sebelum perang di Batavia sampai yang terjadi di wilayah sekitar Jakarta yang sekarang disebut Jabodetabek (malah kini Jabodetabek)

.

 

REVIEW

Sejarah suatu bangsa adalah harta tak terkira. Hal itu mencakup sejarah humor. Sebab, humor tidak mungkin lepas dari pengalaman sehari-hari manusia, yang membentuk sejarah.

Buku ini menawarkan sejarah humor yang terjadi di Jakarta. Mulai dari namanya masih Batavia hingga kini menjadi Jabodetabek. Terdapat 200 humor yang dibagi ke dalam empat jenis, yaitu humor dalam bentuk narasi, humor singkat, humor tebakan, serta humor graffiti. Namun yang dominan adalah humor dalam bentuk narasi.

Humor-humor yang berkaitan dengan etnis tertentu dan bersifat “keterlaluan disingkirkan. Begitu pula yang sifatnya porno. Selain itu, ada anotasi, yaitu kamus pengertian untuk memahami arti dari kata-kata yang terasa “ganjil”. Misalnya, pengertian dari anta, verboden, begah, dan masih banyak lagi.

Kekurangan buku ini adalah penyampaiannya yang kaku. Amat mengacu kepada bahasa Indonesia, jadi humornya kurang “betawi” jika dikaitkan dengan judul buku.

Namun di atas itu semua, buku berukuran saku ini mengandung nilai sejarah yang tinggi. Dengan ukuran yang tergolong mini, buku ini dapat dibaca kapanpun dan dimanapun untuk mengisi waktu senggang, sekaligus mengetahui salah satu sisi historis humor warga Jakarta.(yasyus/Kitareview.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here