Hidup Itu Indah

0
167

Hidup Itu Indah
Buku ini berisi komik dan diselingi oleh artikel yang mirip tulisan di blog pada umumnya, yang bercerita soal kegelisahan hati si Penulis.

DATA BUKU

    • Judul Buku: Hidup Itu Indah
    • Jenis Buku: Komik
    • Genre: Fiksi
    • Penulis: Aji Prasetyo
    • Penerbit: Cendana Art Media
    • Cetakan Pertama: 2010
    • Bahasa: Indonesia
    • Tebal Buku: 216 halaman
    • Dimensi Buku (P x L): 20 cm
    • Website Resmi Penerbit: –
    • Nomor ISBN:  978-979-18462-8-8
    • Harga Buku:
        • Gramedia: Rp.42.000(Harga Update Maret 2011)  


SINOPSIS

Penciptanya menyebut karyanya ini sebagai komik opini. Isinya memang komik yang mengomentari “semua” masalah atau kondisi sosial yang terjadi di seputar kita. Peraturan tentang kartu penduduk yang menyulitkan, kondisi di kantor kelurahan (baca: pemerintah); menggugat fungsi dan peran setan; pelaksanaan ajaran agama yang berlebihan hingga tidak rasional lagi; menggugat media, khususnya reality show, yang “menjual” kemiskinan demi mendapatkan keuntungan komersial. Semua ini disajikan secara jenaka.



REVIEW


Hidup itu indah. Dengan segala dinamikanya. Bahkan meski Kita, dan mungkin juga Anda, tinggal dalam suatu negeri gado-gado yang masih menganut logika feodalisme masa lampau, irasionalitas mistis yang bergabung dengan ajaran agama, fanatisme sempit, korupsi jiwa di segala lini. Satir? Kita tanya Aji Prasetyo.


Sebagai seorang violis yang turut terjun ke dunia perkomikan, Aji mengambil langkah berani dengan membuat komik opini macam ini. Dia melakukan otokritik terhadap diri, termasuk agama dan bangsanya sendiri. Jangan sakit hati. Patutlah bersedih melihat ironi yang menggampar tiap hari dan sedikit disitir menjadi muatan dalam komik ini.

Aji menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh utama, karena ingin menyajikan pandangan personal terhadap permasalahan negeri ini. Tentang busuknya birokrasi, mimpi si miskin di kolong jembatan, buruknya sistem pendidikan bagi para pemuda, agama yang menjadi komoditi, para politikus busuk dengan senyum palsu di baliho-baliho, perang budaya, tayangan realitiy show yang memang murahan, dan soal pemurtadan agama. Melihat sekilas tentang beberapa hal itu memang seakan tidak ada sesuatu yang baru. Namun keberanian Aji untuk mengkritik agamanya sendiri merupakan langkah berani.

Lihat saja dalam karyanya yang bernada muram. Digambarkan seorang lelaki yang berjalan sendiri dengan pakaian kumal dan rokok tergantung di mulut. dia melewati keramaian kota, melihat hotel bintang tiga yang menjulang galak, masuk ke gang sempit yang matahari saja malas muncul di situ, menyaksikan orang poligami yang kedua istrinya berantem, dan terakhir masuk ke gubuknya yang jauh di bawah jembatan, kontras dengan sang hotel bintang tiga tadi.

Pertanyaan Aji tentang Ahmadiyah yang diharamkan MUI, namun tidak berlaku untuk ormas kekerasan yang mengatasnamakan agama. Keganjilan keringanan hukuman yang diajukan Tim Pembela Muslim yang berharap agar Amrozi CS tidak ditembak mati karena hal itu melanggar hak asasi manusia.

Buat Aji, yang terjadi di Indonesia adalah perang ideologi Barat melawan Timur Tengah, maupun sebaliknya. Bukan wacana basi perang Barat melawan Timur. Aji memandang sinis Barat sebagai sumber “Modern” dan Timur Tengah sebagai “Kesalehan”. Dia mempertanyakan itu, misalnya dalam panel yang menyindir acara MAMAMIA, dimana seorang ibu berjilbab namun mengenakan legging, malah mendukung anaknya untuk berpakaian seksi. Pertanyaannya: orang tua saleh macam mana yang mendukung anaknya untuk pamer aurat? Haruskah demi ketenaran harga diri mesti diturunkan? Dalem coy!

Belum lagi soal orang-orang Muslim garis keras yang tidak nyambung. Mereka membela bahkan menanamkan ideologi kepada anak-anaknya sejak kecil untuk membela Palestina, sedangkan saudara-saudara seagamanya sendiri yang kelaparan di dalam negeri dicuekin. Bila kaum beragama lain (baca: Kristen) memberi bantuan, akan ada demo besar-besaran dan bilang dengan lantang “KRISTENISASI!”

Cerita paling lucu sekaligus miris ialah perbincangan Aji dengan sesosok setan yang ingin gantung diri. Setan itu merasa sebagai kambing hitam, padahal manusia lebih kejam dari setan. Manusia punya akal budi yang membuat dia seharusnya mampu berpikir lebih untuk tidak melakukan kejahatan.

Di samping itu, Aji melihat pemerintahan sekarang masih menganut sistem priyayi pada zaman feodal dulu. Orang asing masuk dengan kepentingan terselubung mampu menyumpal mulut pemerintah dengan sogokan yang tidak terlalu besar. Mental priyayi seperti ini mesti ditumpas agar SEJARAH TIDAK BERULANG, kata Aji.

Buku ini berisi komik dan diselingi oleh artikel yang mirip tulisan di blog pada umumnya, yang bercerita soal kegelisahan hati Aji Prasetyo. Kesedihan memang sangat mengigit kala membaca karya ini, namun usaha untuk bertahan dalam kekerasan dan keganjilan yang menerpa sebagai warga Indonesia setiap harinya, adalah nilai plus sebagai orang Indonesia.

Tetap bersyukur dengan mengatakan “Hidup Itu Indah”, seperti tutur Aji.

(yasyus/Kitareview.com)

SHARE
Previous articleMr. Friday
Next articleSenyum Abadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here