kozorai

Kedai Rumah Pohon

http://www.kitareview.com/kuliner-khas-yogyakarta/kedai-rumah-pohon

Kedai Rumah Pohon

Kita langsung jatuh hati dengan pelayanan ditempat ini.

DATA WARUNG

  • Nama Warung: Kedai Rumah Pohon
  • Alamat: Blunyahrejo TR II/808
  • Menu Utama: Jamur, Ikan baker, Jus Buah & Es Teler
  • Harga:
    • Rp.5.000Rp.60.000
    • (Harga Update 7 Desember 2011)

PETA

View Kedai Rumah Pohon in a larger map

REVIEW

Kalau boleh jujur petualangan kuliner Kita memang sering terganjal soal waktu. Karena Kita baru bisa berpetualang setelah jam 6 malam, seringnya Kita kehabisan best seller meal, atau jadi terburu-buru makan karena tempat hampir tutup, atau sekedar gagal mendapat gambar dengan kualitas bagus karena kebanyakan tempat makan bersinar temaram.

Sama seperti kunjungan kali ini. Kita kehabisan Sambel Leak atau Sambel Cumi Hijau (best sambal) dan Es Teller 21 maupun es buah (best recommended drink). Akhirnya pilihan jatuh pada Nasi Guendheng, Brongkos Keraton, Mendoan Goreng, Wedang Keraton dan Es Jus Tape Hijau. Nasi Guendhengnya meski memang enak tapi tidak unik. Menu ini hanya merupakan campuran nasi dengan oseng sayur, mie dan seafood.

Nah.. untuk Brongkos Keraton, Kita tidak bisa mendefinisikan secara singkat. Menu yang terdiri dari daging, telur dan tahu ini merupakan kawin silang gudeg berkuah dan rawon yang berkuah kental dengan bumbu yang ‘medhok banget’.  Sementara mendoan yang disajikan panas panas dengan cabe hijau memang tidak pernah mengecewakan, bukan?

Jus Tape-nya tidak terlalu istimewa, tapi Wedang Keraton nya…Ummmmmhhh…rasanya seperti minum semua ‘mpon mpon dapur’ dalam satu gelas. Sejauh yang bisa Kita ingat ada kayu manis, jahe, kencur, kunyit, sereh, dan jeruk nipis. Bukannya jadi semrawut, minuman ini malah memberi rasa yang outstanding karena setiap rempah memberi kontribusi yang pas untuk keseluruhan rasa.

Harga makanan disini terbilang cukup mahal. Misalnya Iga Brongkos yang dibanderol 30.000 dan Gurameh Bakar yang dijual 60.000. Tapi mengingat pelayanan dan rasa serta suasana yang berbeda, Kita rasa harga tersebut cukup wajar. Untuk total semua pesanan Kita hanya perlu membayar 51.500.

Tips utama jika mau datang ketempat ini, jika memungkinkan pakailah sepeda motor, pakai baju yang nyaman dan untuk wanita jangan pakai high heels jika mau makan di lantai atas.

Pertama, lokasinya ternyata cukup tersembunyi, saya saja sempat tersesat. Dari jalan Walter Monginsidi, kita harus masuk ke gang yang gelap dan jalan nya jelek. Lalu dari situ kita masih harus belok lagi kekanan melewati jembatan kecil dan jalan berbatas sungai kecil yang cukup hanya untuk satu mobil. Papan penunjuk arah terus terang tidak banyak membantu dengan absen nya penerangan.

Kedua, tempat duduk di kedai ini adalah lesehan. Saya sendiri kehabisan bantal untuk bersila. Sandal harus parkir di ujung tangga sebelum kita duduk.

Ketiga, Meja makan di lantai satu memang tersedia, namun selain jumlahnya terbatas, Kita hanya akan disuguhi pemandangan kasir, dapur dan tempat parkir.

Ada banyak akses tangga menuju ke lantai atas. Kita sendiri ‘hanya’ memilih lantai 2 karena histori yang buruk dengan ketinggian. Total bangunan ini sebenarnya ada 6 lantai. Tapi yang difungsikan untuk makan hanya sampai lantai 3 (lantai tiga ada ruang meeting). Lantai 6 sering disebut sebagai gardu pandang karena pada siang hari, banyak pengunjung naik untuk menikmati pemandangan seluruh Yogya atau sekedar berfoto.

Kita langsung jatuh hati dengan pelayanan ditempat ini. Entah apa yang dilakukan Mas Dewo sehingga semua stafnya melakukan pelayanan setara Hotel berbintang. Dimulai dari pak parkir yang sangat informatif mengenai kedainya. Dan tentu saja membantu Kita mengeluarkan motor. Lalu mbak pelayan yang dengan sabar mencarikan Kita meja, menjelaskan mengenai menu yang ditawarkan serta meminta maaf (sebelum dia pergi) jika pesanannya nanti akan lama keluar karena banyaknya tamu. Yang terakhir mas pelayan yang sanggup membawa 20 gelas minumam dalam satu baki ke lantai 2 yang tangganya curam! Kebersihan tempat ini tentunya tidak bisa dibilang prima mengingat luas dan tingginya tempat, dan seting natural-nya. Tentu saja debu masih ada disana-sini, namun tidak sampai mengganggu.

Ada kejadian yang membuat hati Kita melorot sampai ke mata kaki. Ketika Kita makan, terjadi 3 kali vibrasi konstan selama 10 detik di lantai yang Kita duduki (hanya Tuhan yang tahu apa itu). Total orang yang ada di lantai dua ketikaKita makan hampir 30 orang. Belum lagi kalau ada pengunjung yang berlari kesana kemari. Hii…. Intinya jika Anda ingin mencoba sensasi makan dengan sedikit bumbu petualangan dan uji nyali, Anda harus datang ke tempat ini.

(Nakizura/Kitareview.com)

 

(Visited 214 time, 1 visit today)

Komentar kamu tentang review ini

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recommended Reviewclose