Te[rekam]

0
439

Te[rekam]
“..Te[rekam] juga tidak lain
hanyalah satu dari sekian banyak ‘dosa-dosa’ seorang Koya Pagayo dalam
usahanya merusak perfilman Indonesia.


DATA FILM

  • Judul Film: Te[rekam]
  • Genre: Horor – Dewasa
  • Sutradara: Koya Pagayo
  • Produser: Lucki Lukman Hakim
  • Penulis Skenario: –
  • Studio Produksi: Batavia Pictures
  • Distributor: Batavia Pictures
  • Negara: Indonesia
  • Bahasa: Indonesia
  • Durasi: 60 menit
  • Tahun rilis: 17 Maret 2010 (Indonesia)


PEMERAN UTAMA

  • Olga Lydia sebagai dirinya sendiri
  • Julia Perez sebagai dirinya sendiri
  • Monique Henry sebagai dirinya sendiri


SINOPSIS

Olga Lydia (model) memiliki keinginan untuk mencoba membuat sebuah film yang bergenre horror. Sebelumnya Olga pernah membuat film bergenre drama. Dalam pengerjaan proyek ini Olga mengikutsertakan temannya Monique, seorang pemain film dan sinetron. Olga juga meminta bantuan temannya yang lain, Julia Perez (Jupe).

Insiden diawali ketika Olga, Jupe dan Monique memutuskan untuk tinggal disebuah rumah milik teman Olga bernama Siska, dalam rangka mempersiapkan film horror mereka. Olga meminta agar semua kegiatan mereka di dalam rumah itu direkam dengan kamera, yang mungkin bisa digunakan untuk keperluan dokumentasi Behind The Scene film tersebut. Olga memasang kamera hampir disetiap ruangan rumah.

Mereka mengalami beberapa kejadian aneh tapi mereka anggap hanya perasaan paranoid mereka saja, dan tanpa mereka sadari, semua kamera yang mereka pasang telah menangkap sosok makhluk gaib yang sangat menyeramkan. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah itu. Namun ternyata tidak mudah, karena banyak kejadian aneh yang muncul dan menghalang-halangi mereka untuk dapat keluar dari rumah tersebut.

Setelah semua kejadian itu, Olga meminta bantuan Koya Pagayo, seorang sutradara untuk mengedit semua footage-footage yang ia miliki dan dijadikan sebuah film horrr. Akhirnya Batavia Pictures tertarik dan bersedia membeli dokumentasi tersebut serta mendanai proses editing-nya untuk diproduksi menjadi sebuah layar lebar yang kemudian didistribusikan. Have fear!

 

TRAILER

 


REVIEW

Selalu ada yang pertama untuk segalanya, dan melalui Te[rekam], Kitamencoba memberanikan diri untuk mencicipi bagaimana rasanya hidangan mocku horror milik sang sutradara ‘legendaris’ Indonesia ini. Sutradara paling produktif sejagat raya, sutradara dengan seribu nama, the one and only, Koya Pagayo atau Nayato Fio Nuala atau Yato Fio Nuala atau Ian Jacobs atau Pingkan Utari atau Ciska Dopper. Mengapa Kita mengatakan ‘memberanikan diri’ ? Takut? Hahaha..Meskipun baru pertama kali ini Kita menonton horror buatan Pagayo, bukan berarti Kita tidak pernah mendengar reputasi sutradara satu ini dalam menghasilkan film-film ber-genre seram di jagat perfilman Indonesia, tentu tidak perlu lagi Kita jelaskan, Anda para ‘penggemarnya’ pasti sudah jelas tahu luar dalam.

Jadi yang Kita takutkan adalah apakah Kita sanggup menyelesaikan film yang katanya diangkat dari kisah nyata ini sampai habis dikarenakan ‘reputasi’ Bang Pagayo tadi? Dan setelah melalui rangkaian siksaan audio visual sepanjang 1 jam lebih, akhirnya Kita berhasil menyelesaikan Te[rekam] dengan selamat, tanpa kekurangan satu apapun. Maaf saja ya Bang Pagayo, ini adalah horror mockumentary TERBURUK yang pernah Kita tonton, luar biasa!

Kita sendiri adalah fans berat mockumentary horror. Tidak peduli seberapa palsunya latar belakang cerita yang diangkat, genre horor satu ini, selalu meningalkan kesan tersendiri buat Kita, dan karena alasan satu inilah Kita mau menonton Te[rekam], tanpa mempedulikan peringatan teman-teman Kita akan buruknya kualitas film satu ini, dan Kita menyesal tidak mendengarkan mereka.

Begini, syarat utama dan terpenting dalam membuat sebuah mocku horror yang baik adalah Anda harus dapat meyakinkan para penontonnya, bahwa apa yang akan Anda sajikan nanti dapat terlihat senyata mungkin dan sebisanya menghindari kesan yang terlalu dibuat-buat. Nah, masalahnya seorang Koya Pagayo entah karena lupa, atau tidak tahu bagaimana cara membuat sebuah mocku horror, telah melanggar aturan penting tersebut, dan puluhan ‘pelanggaran’ lainnya. Pertama, coba cek premisnya. Kita tidak habis pikir bagaimana sampai 3 orang wanita,  Olga Lydia, Monique Henry, dan Julia Perez (dalam rangka menyakinkan penontonnya bahwa film ini benar adanya mereka menggunakan nama asli), hanya karena ingin membuat skrip film horor sampai-sampai rela meninggalkan kenyamanan apartemen mereka dan mau tinggal di sebuah rumah tua yang ujung-ujungnya di ketahui angker. Tidak masuk diakal dan terlalu berlebih-lebihan.

Kedua, pengunaan kamera juga menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam horor jenis ini. Kebanyakan para sineas memilih memakai kamera gengam plus pengunaan pandangan orang pertama sebagai media visualnya. Dalam kasus Te[rekam] lagi-lagi Pagayo terlalu over dalam pengimplementasiannya. Lihat saja nyaris disepanjang film KIta diganggu dengan efek distorsi baik visual maupun audio yang seharusnya tidak perlu ada. Pagayo juga terlalu mengobral habis-habisan rentetan penampakan yang konyol, bahkan jauh sebelum mereka sampai dirumah itu, terlalu berisik untuk ukuran sebuah dokumenter horor dengan kemunculan scoring super-lebay yang seakan-akan juga berfungsi sebagai ‘alarm’ disaat para dedemit menampakan dirinya. Kamera yang terlalu shaky membuat Kita mual. Alih-alih menghasilkan nuasa mengerikan-realistis, yang ada malah kekonyolan demi kekonyolan yang terlihat sangat dibuat-buat, lengkap dengan segala histeria tidak jelas dari para pemerannya yang mondar-mandir dan menjerit-jerit tidak karuan sepanjang film. Sungguh sebuah siksasaan buat mental, mata dan telinga Kita.

Tidak peduli seberapa kerasnya usaha yang dilakukan ketiga pemainnya untuk menyakinkan penontonnya bahwa apa yang mereka alami dalam film ini adalah kejadian nyata, tetap saja mereka gagal,. Termasuk dengan menghadirkan wawancara terpisah pada awal dan akhir film. Bukan hanya karena kualitas akting yang sangat buruk, namun kehadiran mereka, yang notabene adalah publik figurlah yang menjadikan nuansa real film ini langsung lenyap begitu saja. Yah, setidaknya kehadiran Julia Perez alias JuPe dengan karakter bitchy-nya, yang super annoying dengan mulut kotornya plus ukuran buah dada yang fantastis, bisa jadi hiburan tersendiri disini. Malah kalau dilihat-lihat lagi, jika tidak sedang menjerit-jerit ketakukan tidak karuan, maka JuPe lah yang terlihat paling natural, yah, wajar saja, toh tidak sulit memerankan karakter yang notabene adalah diri sendiri.

Mungkin satu-satunya elemen postif disini adalah bagaimana Koya memilih setting rumah angker tersebut. Cukup menyakinkan dan seram, bahkan jauh lebih terlihat mengerikan ketimbang penampakan-penampakan para dedemit yang tidak jelas itu. Tapi tetap saja Koya tidak mampu menutupi keganjilan demi keganjilan. Untuk ukuran bangunan tua yang katanya sudah lama tak berpenghuni dan terurus, di beberapa ruangan di rumah tersebut masih terlihat tertata rapi dan bersih, lihat saja kamar mandinya, atau kamar-kamarnya, paling hanya sedikit berantakan tanpa ada debu sama sekali.

So, Te[rekam] menjadi pengalaman pertama Kita (dan mudah-mudahan yang terkahir) dengan karya seorang Koya Pagayo yang ingin cepat-cepat Kita lupakan. Ya, Te[rekam] juga tidak lain hanyalah satu dari sekian banyak ‘dosa-dosa’ seorang Koya Pagayo dalam usahanya merusak perfilman Indonesia. Sesungguhnya tidak ada hal baru yang ditawarkan disini, bahkan jika melihat penulisan judulnya saja terkesan sekali jika meniru [REC], horor Spanyol yang keren itu, termasuk beberapa adegan didalamnya. Tidak ada yang salah jika memang terinspirasi dari film lain, tapi tolong dibuatlah dengan baik, tidak berantakan dan asal jadi seperti ini. Sebuah sajian yang secara harfiah benar-benar meneror mental dan kesabaran serta indera pengelihatan dan pendegaran Kita. Sungguh terlalu kau Koya Pagayo..

(Hafilova/Kitareview.com)

SHARE
Previous articleMerantau
Next articleRear Window

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here