Takut: Faces of Fear

0
525

Takut: Faces of Fear
Takut bisa dibilang tampil mengecewakan, dan terbilang jauh di bawah kualitas standar..

DATA FILM

  • Judul Film: Takut: Faces of Fear
  • Genre: Horor
  • Sutradara: Rako Prijanto – Riri Riza -Ray Nayoan – Robby ErtantoRaditya SidhartaThe Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timothy Tjahjanto).
  • Penulis Skenario: Rako Prijanto – Riri Riza -Ray Nayoan – Robby ErtantoRaditya SidhartaThe Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timothy Tjahjanto).
  • Produser: Brian Yuzna & San Fu Maltha
  • Studio Produksi: Komodo Films
  • Distributor: Komodo Films
  • Negara: Indonesia
  • Bahasa: Indonesia
  • Durasi:  91 menit
  • Tahun Rilis: 14 November 2008

                                                                                                                                              
PEMERAN UTAMA

  • Marcella Zalianty sebagai Dinna (Show Unit)
  • Lukman Sardi sebagai Bayu (Show Unit)
  • Dinna Olivia sebagai Naya (Titisan Naya)
  • Junior Liem sebagai sepupu (Titisan Naya)
  • Epy Kusnandar sebagai Bambang (Peeper)
  • Fauzi Baadila sebagai Andre (The List)
  • Shanty sebagai Sarah (The List)
  • Eva Celia sebagai Gadis (The Rescue)
  • Shareefa Daanish sebagai Dara (Dara)


SINOPSIS

Show Unit
Dalam sebuah pesta yang diadakan di rumah tetanggnya, Bayu bersama tunangannya, Dinna tanpa sengaja melihat lampu rumah mereka menyala dan menyangka ada perampok yang memasuki rumah mereka. Bayu kemudian bergegas pulang untuk memeriksa keadaan rumahnya. Dengan perasaan takut, Bayu yang bersenjatakan pisau dapur ditangannya kemudian mulai memeriksa satu persatu ruangan di rumah tersebut dan tiba-tiba saja sebuah kejadian tak terduga, menyebabkan retetan nyawa-nyawa melayang. Sialnya lagi Bayu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang melihat perbuatannya tersebut.

Titisan Naya
Diawali dengan kedatangan seorang ibu dan putrinya Naya ke sebuah acara adat pencucian keris di rumah kerabatnya. Di rumah tersebut, Naya yang bertemu dengan sepupunya. Dasar Naya yang memiliki pola pikir modern ala gadis kota, ia malah merayu sepupunya itu untuk melakukan hubungan seks, tanpa mengindahkan perigatan sang sepupu untuk berhati hati dan menjaga sikapnya selama proses ritual yang sangat keramat tersebut berlangsung. Namun sekali lagi Naya tidak memperdulikan peringatan tersebut, dan tentu saja perigatan tersebut bukanlah peringatan main-main. Naya pun mulai mengalami gangguan mistik akibat perbuatannya.

Peeper
Bambang adalah seseorang cleaning service yang memiliki hobi menikmati keindahan tubuh para wanita melalui lubang intip. Suatu hari dia diberikan sebuah tiket untuk untuk menonton pertunjukan wayang orang “Sarpanaka”. Selama pertunjukan berlangsung, Bambang melihat kecantikan sang penari wayang Sarpanaka yang jelita, dengan penuh nafsu yang mengelora. Ttanpa ia sadari, rasa ketertarikannya tersebut berujung kepada sebuah miseteri yang mengerikan, tetang siapa sebenarnya sosok penari wayang tersebut.

The List
Akibat diputuskan oleh kekasihnya, Andre, Sarah merasa harga dirinya diinjak injak begitu saja. Dengan perasaan marah yang luar biasa ia pun kemudian mendatangi seorang dukun santet, untuk “mengerjai” mantan kekasihnya tersebut dengan berbagai ilmu teluh yang sudah tertulis dalam sebuah “list” (daftar) maut sang dukun. Sarah yang kegirangan menyaksikan Andre mengalami siksaan tidak pernah menyadari bahwa di dalam “list” tersebut ada sebuah rahasia besar yang sudah menunggunya.

The Rescue
Jakarta, di masa depan dimana hampir seluruh warganya berubah menjadi manusia buas pemakan daging akibat virus yang terlepas dari sebuah ledakan laboratorium biologi. Sebuah tim gegana ditugaskan untuk menyelamatkan dua orang warga sipil yang selamat dari daerah terinfeksi tersebut. Salah satunya adalah Gadis, yang mempunyai sebuah rahasia besar dalam dirinya.

Dara
Cantik, anggun, pendiam dan lugu adalah sosok dari seorang wanita bernama Dara, yang juga seorang juru masak sekaligus pemilik sebuah restoran berkelas. Ia mampu memikat pelanggannya, khususnya pelanggan pria. Tidak jarang para pria tersebut di undang ke rumahnya untuk mendapatkan jamuan khusus dari Dara, sebuah jamuan yang benar-benar spesial. dimana para pria tersebut nantinya akan dihadapkan kepada siapa sosok Dara sebenarnya, yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.



REVIEW

Seperti tidak mau ketinggalan dengan negara Asia lain, yang sudah membuat sebuah horor antologi seperti Three dan 4bia, yang bisa terbilang mendapatkan sambutan hangat dari para penontonnya. Indonesia pun memiliki Takut: Faces of Fear,  yang juga merupakan sebuah kompilasi horor dari 6 cerita hasil karya 7 sutadara ternama seperti Rako Prijanto, Riri Riza, Ray Nayoan, Robby Ertanto, Raditya Sidharta, dan The Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timothy Tjahjanto). Sudah tentu kehadiran nama-nama sineas terkenal negeri ini menarik banyak kalangan untuk menyaksikan film ini, hal itu terbukti dengan membeludaknya penonton yang menyaksikan film produksi Komodo film ini pada INAFF tahun 2008 lalu.

Namun sayang Takut ternyata tampil jauh di bawah standar dan ekspektasi Kita. Bisa dibilang film yang juga bertaburan banyak bintang ternama ini sangat mengecewakan. Apalagi hampir semua film merupakan plagiat secara menyeluruh, tanpa adanya usaha untuk membuat film ini terasa “berbeda”. Memang bisa dibilang susah untuk membuat sebuah cerita orisinil, apalagi jika yang dibuat adalah sebuah film horor, namun setidaknya para sutrdara ternama ini seharusnya mampu memberikan ciri khas tersendiri, sehingga tidak terlalu terkesan “mencontek”.

Menurut Kita, tagline film ini benar-benar mencerminkan apa yang sebenarnya ada pada film ini, “6 cerita, 7 sutradara, 1 jeritan”, karena memang hanya ada satu film yang pantas mendapatkan jeritan yaitu, Dara. Walaupun dari cerita juga tidak bisa dibillang orisinil, setidaknya film pendek besutan Mo Brothers ini tampil jauh lebih baik dari lima cerita lainnya. Dengan sinematografi dan set yang luar biasa, ditambah dengan dukungan akting meyakinkan dari Shareefa Daanish yang sangat pantas menjadi sosok Dara, membuat film ini pantas dijuluki save the best for the last. Karena memang selain tampil terbaik, film ini juga tampil terakhir dari 6 segmen yang ada

Bagimana dengan film-film lainnya? Akan Kita review satu persatu. Dimulai dari cerita pembuka, Show Unit. Sebagai sebuah film pembuka, Show Unit tampil sangat buruk. Mencoba tampil berbeda dengan visual hitam putih ala Sin City, malah membuat besutan Rako Prijanto ini tampil konyol, karena tidak didukung dengan pengambilan gambar yang baik. Sehingga terkesan hanya ingin pamer saja. Ditambah dengan plot cerita yang dibuat sok misterius meniru Hitchcock, malah membuat penonton bingung dengan apa yang terjadi. Belum lagi banyaknya iklan sponsor yang merebak dimana mana.

Cerita kedua, Titisan Naya. Sebenarnya film garapan Riri Riza ini memiliki potensi untuk menjadi bagus. Apalagi dengan mengambil latar belakang mistis kejawen yang dianut masyarakat Jawa, sehingga terasa sekali bau Indonesia-nya. Namun entah kenapa dalam penggarapannya, cerita film ini kurang memuaskan dan tidak terkesan seram sama sekali. Padahal atomosfer yang ditawarkan sudah cukup mendukung. Tetapi kehadiran sosok-sosok hantu berpakaian Jawa kuno yang terkesan dipaksakan, malah membuat film ini menjadi kikuk. Ditambah banyaknya adegan tarian dalam Titisan Naya, akan mengingatkan anda pada horor Thailand berjudul, The Victim.

Peeper, adalah cerita ketiga dan bisa dibilang cerita yang tidak perlu ada dan juga merupakan cerita yang gampang sekali dilupakan. Film karya Robby Ertanto ini terkesan hanya menggumbar keseksian tubuh para pemain wanitanya saja, dan sekali lagi horor Thailand seperti Art Of The Devil dan Bangkok Haunted benar-benar ditiru habis oleh film ini.

Meniru 4bia yang juga memiliki elemen horor komedi didalamnya, cerita keempat, The List, juga menggambil tema yang sama, dengan tujuan untuk menghibur penontonnya agar tidak terlalu tegang. Namun jujur saja, Kita sama sekali tidak terhibur ataupun tertawa, karena memang tidak ada yang lucu didalamnya. Kalaupun ada, berarti mungkin selera humor Kita terlalu tinggi, sehingga tidak bisa menangkap apa yang seharusnya lucu dari film ini =p

Cerita ke lima, The Rescue. Bisa di bilang film ini merupakan terobosan besar untuk sinema horor indonesia yang selama ini hanya didominasi dengan penampakan para dedemit mesum di dalamnya. The Rescue berani mengangkat tema zombie yang bisa dibilang tidak pernah ada dalam sejarah perfilman horor Indonesia. Sebuah usaha dari Raditya Sidharta yang pantas mendapatkan apresiasi lebih, dan kalau saja film ini bisa dibarengi dengan cerita baik dan tidak terkesan terlalu dipaksakan, niscaya The Rescue bisa tampil jauh lebih baik.

Overall, Takut bisa dibilang tampil mengecewakan, dan terbilang jauh di bawah kualitas standar dari para sutradara ternama didalamnya, kecuali Dara tentu saja. Mungkin sudah saatnya filmmaker dalam negeri, belajar dari pengalaman sejarah horor tanah air tempo dulu. Walaupun terlihat jadul dan “primitif”, setidaknya bisa tampil lebih baik dari kebanyakan film horor pada saat ini.

(Hary/Kitareview.com)

SHARE
Previous articleCin(t)a
Next articleCalo Presiden

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here