kozorai

Larung

http://www.kitareview.com/novel/larung

464741027_20120113051344_buku-larung copy

Buku ini akan mengajak Anda untuk merefleksi moral dan keadilan hukum yang dimiliki seluruh elemen masyarakat Indonesia, baik rakyat maupun penguasanya.” 

DATA BUKU
  • Judul Buku: Larung
  • Jenis Buku : Novel
  • Genre: Fiksi
  • Penulis: Ayu Utami
  • Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
  • Cetakan: 1, November 2001
  • Bahasa: Indonesia
  • Tebal Buku: vii + 264 Halaman
  • Dimensi Buku (Px L): 13,5  x 20 cm 
  • Website resmi/email Penerbit: -
  • No ISBN : 978-979-9023-64-3
  • Harga Buku:
    • Gramedia: Rp.35.000
    • (Harga Update Januari 2012)
KARAKTER UTAMA
  • Romo Wis (Saman) 
  • Sihar SItumorang
  • Laila Gagarina (Laila)
  • Yasmin Moningka (Yasmin)
  • Cokorda Gita Magaresa (Cok)
  • Shakuntala (Tala)
  • Brigjen Rusdyan Wardhana
SINOPSIS
Buku ini adalah kisah lanjutan novel Saman. Di penghujung masa Orde Baru. Saman telah tinggal di New York sebagai pelarian politik. Ia bertemu lagi dengan empat sahabat yang dulu membantu ia kabur dari Indonesia—Shakuntala si pemberontak, Cok si binal, serta Yasmin dan Laila yang diam-diam mengagumi dia. 
Kini mereka memiliki misi baru: membantu tiga aktivis mahasiswa kiri melarikan diri dari kejaran rezim militer. Misi ini dibantu oleh seorang pemuda misterius dengan karakter gelap: Larung. 
Akankah misi itu berhasil? Ataukah Larung justru menyeret mereka ke dalam kegelapan?
REVIEW
Novel “Larung” merupakan buku lanjutan Saman. Dikisahkan Larung dan Saman yang bekerja keras dalam usaha menyelamatkan tiga aktivis yang diuber-uber tentara karena peristiwa 27 Juli 1996. Namun usahanya menemui kegagalan setelah mereka dijebak, dan keduanya dalam penahanan tentara dan diinterogasi. Novel ini lebih didominasi sebuah pergolakan politik dan kekuasan rezim militer yang merepresentasikan kekuasaan Orde Baru, hal ini patut diingat ada beberapa peristiwa yang merujuk ke pemerintahan Orde Baru, yaitu kasus G30SPKI,  kerusuhan rasial di Medan,  pembantaian terhadap  orang-orang yang terlibat dan diduga terlibat G30 SPKI, dan peristiwa 27 Juli 1996. 
Di buku ini juga menggambarkan sosok peran militer yang mendominasi kekuatan sehingga rakyat tidak mampu bicara apalagi memprotes. Bagaimana para aktivis mahasiswa dengan riang gembira diculik, dihilangkan paksa, bahkan hingga dibunuh. Salah satunya yaitu ketika Saman dan Larung tertangkap, setelah diinterogasi, terlihat kebiadaban penguasa otoriter yang sengaja membunuh tanpa proses pengadilan yang layak. Larung yang ditembak dengan peluru redam jatuh dipundak Saman. 
Selain pergolakan aktivis melawan militer, para tokoh wanitanya yang pada libur ke New York, sekalian melihat aksi pertunjukan Shakuntala dalam perannya sebahai Sinta dan Rahwana dalam Ramayana. Petualangan cinta dan perselingkuhan mewarnai tokoh-tokoh novel ini, sebaliknya tokoh yang baru dan asing yaitu Larung yang seorang aktivis yang memiliki jalan cerita tersendiri. Larung hidup dan besar bersama neneknya, nenek yang sudah 120 tahun itu tak kunjung meninggal diakibatkan susuk-susuk mistik yang ditanam di tubuhnya semenjak muda dulu. 
Sehingga mau tidak mau Larunglah yang sanggup mengakhiri nyawa nenek dengan membunuhnya dengan enam cupu sebagai penawar susuk tersebut. Larung dilukiskan Ayu, sebgai laki-laki misuerius yang menjauhi tabiat nafsu setannya, ia berusaha melawan keinginannya mendekati seorang wanita. Namun nasibnya berakhir dengan peluru tentara yang melenyapkan nyawa Larung  dalam perjuangannya. Dalam novel larung itu berbagai konflik seperti disusun Ayu seperti puzzle, bisa apa saja, penuh teka-teki dari kehidupan larung yang penuh mistis, petualangan cinta para tokoh wanitanya, hingga pergulatan politik yang menimbulkan ketegangan aktivis, rakyat dan militer. Beberapa sekuel peristiwa itu diramu menjadi satu sehingga mewujud sebgaai Novel  Larung ini. 
Ayu yang piawai memainkan puzzle-puzle konflik dengan bahasa yang sederhana, lugas mampu menciptakan suasana yang mencekam banyak ketegangan. Dari sudut pandang sastra, penyajiannya mampu memberi warna dan kebenaran itu sendiri, yang mau tidak mau ide pokok tentang seksualitas dan kekuasaan dibeberkan apa adanya. Sehingga kekhasan Ayu yang menggambarkan seks secara vulgar, terbuka seperti penulis lain Djenar, mampu memberi sinyal tersendiri bahwa wanita tak harus ditutup-tutupi keberadaan maupun tubuhnya, sehingga terbuka apa adanya. 
Dalam cerita itu Ayu ingin mengatakan dengan para tokoh wanita yang berperan “nakal” memberontak dalam segi percintaan kepada masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan bisa berakibat fatal jika tidak dikendalikan dengan moral, meski ada pihak-pihak yang merasa tersakiti, seperti mereka yang diduakan, atau pun ditelantarkan hanya demi cinta semata. Moralitas dikritisi mendalam oleh Ayu Utami. Hal lainnya sindiran sarkasme juga diberikan kepada penguasa Orde Baru yang sewenang-wenang terhadap para aktivis Juli 1996, maupun rakyat yang tertindas akibat kekuasaan otoriter. Di sini seolah Ayu ingin mengajak perlawanan apa pun itu adalah sebuah proses untuk perbaikan seperti yang dilakukan Saman, Larung dan tiga aktivis lainnya yang harus rela terbunuh demi kebenaran yang mereka percayai, karena seperi Iwan Fals bilang,” sesuatu itu dinilai dari prosesnya bukan dari hasil akhirnya. Kebenaran bukan soal menang atau kalah, untuk meraih kebenaran diperlukan perjuangan dan pengorbanan yang tulus. Buku ini akan mengajak Anda untuk merefleksi moral dan keadilan hukum yang dimiliki seluruh elemen masyarakat Indonesia, baik rakyat maupun penguasanya. 
(ipung_sa/Kitareview.com)
(Visited 252 time, 1 visit today)

Komentar kamu tentang review ini

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recommended Reviewclose