Nano Beam-300 dan Nano Beam-400

3
2175

“Dengan perangkat yang murah dan handal cukup membantu pemerintah dalam memajukan teknologi informasi kepada rakyat indonesia”

DATA WIRELESS

  • Nama Wireless:  Nano Beam-300 dan Nano Beam-400
  • Produsen: Ubiquity
  • Firmware: 5.5.6 (XW)
  • Website: www.ubnt.com
  • Harga: Nano beam-300 ($88) dan Nano Beam-400 ($104) (Update April 2014)

SPESIFIKASI

Model NBE-M5-400 NBE-M5-300
Processor Specs Atheros MIPS 74KC, 560 MHz Atheros MIPS 74KC, 560 MHz
Memory 64 MB DDR2, 8 MB Flash 64 MB DDR2, 8 MB Flash
Dimensions 420 x 420 x 275 mm
(16.54 x 16.54 x 10.83 in)
325 x 325 x 256 mm
(12.80 x 12.80 x 10.08 in)
Weight 1.753 kg(3.87 lb)  1.203 kg(2.65 lb)
Power Supply 24V, 0.5A GigE PoE 24V, 0.5A GigE PoE
Max. Power Consumption 8 W 6 W
Gain 25 dBi 22dBi
Channel Sizes 5/8/10/20/30/40 MHz
Output Power 26 dBm

REVIEW

Prodak dari ubiquty ini berbeda dengan yang lain. Hal ini terlihat jelas pada spesifikasi diberikan yaitu berupa ram 64 MB DDR2 dimana besarannya sama dengan yang dimiliki dengan Rocket M5 namun untuk Rocket M5 jenis ramnya masih SDRAM. Selain itu Prosesornya juga beda untuk NBE Atheros MIPS 74KC, 560 MHz sedangkan seri yang lain seperti rocket, NS, loco dan NB menggunakan Atheros MIPS 24KC, 400MHz. Sedangkan untuk besaran memory flashnya sama. Dari sisi bentuk hampir sama dengan  Nano Bridge untuk seri NBE-400 atau NBE-300. Sisi lain untuk pada security hanya tersedia jenis WPA-AES atau WPA2-AES.

Dari sisi perakitan jika dibanding dengan series ubnt lainnya mungkin Nano Beam ini yang paling mudah. Seperti perakitan atenna solid yang tidak membutuhkan mur baut karena hanya tinggal mengancing saja, begitu juga dengan untuk melepas kabel utp dari radio yang mungkin sulit untuk seri Nano Bridge. Namun untuk posisi pada breket masih tetap sama.

Pada review kali ini, kita mencoba untuk membandingkan throughput antara air grid M5 23 dBi, 25 dBi dan Bullet M5HP (antenna 30 dBi). Melihat yang dibandingkan dengan Nano beam jelas beda karena Nano beam sudah menggunakan 2 polarisasi sedangkan air grid dan bullet masih 1 polarisasi. Namun hal ini dapat menjadi acuan buat kita dalam menentukan teknologi. Percobaan ini dilakukan test speed pada posisi di akses point dengan channel witdh dan frekuensi sama.

Percobaan PtP (Point to Point) dengan jarak 2,6km sebagai berikut:

Radio Airgrid M5Hp 27dBi. Hasil speed test Rx: 22,66 Mbps dan Tx: 18,76 Mbps

airgrid27

Radio Nano Beam 400. Hasil speed test Rx: 47,07 Mbps dan Tx 44,08 Mbps

NBE-U

Percobaan PtP dengan jarak 4,3km sebagai berikut

Radio Bullet M5 dan atenna solid 30dBi. Hasil speed test Rx: 5,82 Mbps dan Tx: 13,95 Mbps

bullet-M5

Radio Nano Beam 400. Hasil speed test Rx: 24,83 Mbps dan Tx: 36,72 Mbps

NBE-G

Test Ping sebanyak 1000 pada saat dilakukan speed test:

ping

Firmware 5.5.6 pada nano beam masih memiliki kekurangan seperti pada saat menjadi Akses Point ada frekuensi yang tidak dapat digunakan sebagai mestinya. Seperti pada frekensi 4920-5105  dan 5920 – 6000. Apabila memilih dari frekuensi seperti  5920 maka yang akan terpancar adalah frekuensi 4920. Namun Hal ini tidak berlaku pada posisi setingan client. Sedangkan untuk remote radio via web maupun putty cukup sulit dilakukan untuk beberapa hari kedapan, apabila bandwitdh yang lewat cukup besar seperti 1/2nya dari test troughput antar ke-2 link (ptp).

Apabila kondisi sudah tidak dapat diremote, cara yang dilakukan adalah melakukannya dalam satu jaringan LAN langsung ke radio. Hal ini sangat menjadi konvensional alias sangat menyusahkan. Namun apabila dalam satu jaringan ada server atau radio ubnt mungkin dapat melakukan remote lewat ssh. Jika sudah masuk mungkin dapat restart radio (reboot) setelah itu dapat melakukan pengaturan via web atau test troughtput.  Namun terkadang tetap tidak bisa melakukan pengaturan via web ataupun speed test. Apabila sudah demikian terpaksa harus melakukan pengaturan ubnt lewat ssh seperti merubah frekuensi atau pengaturan lainnya dapat melakukan seperti berikut.

      1. vi /tmp/system.cfg (silakan edit yang diinginkan)
      2. cfgmtd –f /tmp/system.cfg –w (menyimpan konfig dalam flash)
      3. /usr/etc/rc.d/rc.softrestart save

Hal ini sangat membantu troubleshooting jika kita tidak dapat dilakukan remote lewat web kita dapat melakukannya lewat ssh. 

(Donny/Kitareview.com)

SHARE
Previous articlePantai Glagah Indah
Next articlePureit Classic

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here