Panggil Aku Kartini Saja

0
1610

Panggil Aku Kartini Saja
Bahasa yang digunakan Pram menggunakan bahasa formal, jernih dalam menjadi “tangan panjang” pemikiran Kartini.

DATA BUKU

  • Judul Buku: Panggil Aku Kartini Saja
  • Jenis Buku : Biografi
  • Genre: Nonfiksi
  • Penulis: Pramoedya Ananta Toer
  • Penerbit: Lentera Dipantera
  • Cetakan: 5 Februari 2010
  • Bahasa: Indonesia
  • Tebal Buku: 304 Halaman
  • Dimensi Buku (Px L): 15  x 22,5 cm
  • Website Resmi Penerbit: –
  • No ISBN : 979-97312-11-6
  • Harga Buku:

      • Gramedia: Rp.50.000
      • (Harga Update Juni 2011)


SINOPSIS

Biografi ini mengajak kita untuk mengingat sosok Kartini, tapi bukan dari sudut pandang domestik—rumah tangga.  Seperti kisahnya yang menjadi seorang gadis pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan, kemudian meninggal. Coba singkirkan kenangan itu dan alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan arus kekuasaan besar penjajahan feodal dan Belanda dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun.

Kartini tidak punya massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan hamba seperti Kartini. Yang dipunyai Kartini adalah kepekaan dan keprihatinan dan beliau tuliskan segala-gala perasaannya yang tertekan itu. Hasilnya luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa terdengar sampai jauh, bahkan sampai negeri di mana asal dan akar segala kehancuran manusia Pribumi terjadi. Pramoedya Ananta Toer merekam itu semua dengan tajam dan penuh pesona yang kemudian membedakan dengan uraian dan tafsir mana pun atas sosok Kartini.


REVIEW

Dalam bukunya “Panggil Aku Kartini Saja”, Pram sengaja tidak menyuguhkan cerita yang digambarkan secara sastra seperti buku-bukunya roman “Tetralogi Buru”. Buku ini ditulis dalam bentuk biografi. Kali ini tokohnya adalah Kartini. Gadis Jepara. Beliau yang dikenal sebagai pendekar bangsa untuk kaumnya, memberi inspirasi terhadap perjuangan kaum wanita dan kepada bangsa pribumi yang kelak bernama Indonesia.

Pengetahuan Kita sebelumnya mengenai Kartini, adalah gadis pingitan keluarga ningratnya yang lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan kemudian meninggal. Namun kali ini bukan itu yang akan menjadi bahasan dalam buku “Panggil Aku Kartini Saja”. Kata-kata judul itu asli dari tulisan tangan Kartini dalam menulis esainya yang diterbitkan di media massa pada waktu itu. Tulisan itu tak hanya mengaung di negeri pribumi ini namun juga menggemparkan negeri penjajah di sana. Pramoedya menggunakan kata “Panggil Aku Kartini Saja” lebih memfokuskan pada siapa sebernarnya dibalik sosok Kartini ini, apa yang ia perbuat untuk bangsa, misi apa yang dibawa Kartini bagi kaumnya. Hal itu terangkum jelas pada penelitian yang dilakukan Pramoedya dalam buku ini.

Pramoedya mengumpulkan data-data researchnya dari perpustakaan museum di Jakarta dan Arsip Nasional berikut putra dari R.A Kartini sendiri, Raden Mas Soesalit. Agaknya penelitian  buku ini meninggalkan jejak kelam kerena seharusnya buku “Panggil Kartini Saja” terdiri dari empat jilid namun lagi-lagi ketakutan penguasa waktu itu, terpaksa aksi vandalisme terjadi lagi, yang selamat hanya dua jilid yang sekarang diberi judul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Di dalam buku ini, murni adalah pemikiran Kartini sebagai pribumi terhadap kungkungan penjajahan Belanda, dan penindasan feodalistik yang dirasakannya—padahal Kartini adalah keturunan Priyayi ningrat. Di buku ini Pram, hanya sebagai “tangan panjang” Kartini, yang melakukan dokumentasi sejarah apa yang terjadi pada kehidupan Kartini, di tengah-tengah kemelut budaya feodal dan penjajahan Belanda kala itu.

Sederhana namun sangat jelas. Bahwa Kartini menolak tradisi feodalisme dalam bentuk apa pun—meski ia hidup di dalam keluarga feodal. Buku “Panggil Aku Kartini Saja” ini sarat akan nurani Kartini yang ingin dianggap sama, sederajat dengan kaum pribumi, alih-alih dia seorang keturunan ningrat namun Kartini enggan dipanggil dengan sebuatan Raden Ajeng, Raden Mas Ayu, atau panggilan ningrat lainnya, baginya dirinya adalah sama sederajat dengan kaumnya pribumi, jadi, nuraninya ingin dipanggil dengan sebutan Kartini saja, sama seperti perempuan pribumi lainnya, tanpa gelar, ataupun status sosial. Apalagi terhadap penjajahan Belanda yang sewenang-wenang terhadap kaum pribumi sepertinya.

Beruntung Kartini bisa mengenyam sekolah karena beliau anak keturunan priyayi, yang pada waktu itu sekolah dibangun bukan untuk tujuan pendidikan pribumi namun untuk sekolah para eksklusif  kaum penjajah dan kaum feodal yang “setali tiga uang” dalam berbagi kekuasaan, dan pendidikan.  Sementara pribumi ditelantarkan dalam kebodohan. Namun semua itu berjalan tanpa disadarinya dan praktiknya disengaja penguasa waktu itu. Tak lain tak bukan semua ini memang terencana, agar bangsa pribumi terus dalam kebodohan dan dengan begitu mereka tidak akan bisa melawan penjajah.

Buku ini berisi latar belakang Kartini, bagaimana konflik dengan keluarga mampu dilaluinya dengan tabah meskipun ayahnya terlalu ketat mendidiknya, namun Kartini mencurahkan rasa sayangnya amat sangat terhadap ayah satu-satunya itu. meskipun Kartini dipingit, namun tak ada kemarahan di hatinya, justru dengan tekanan batin tersebut maka ia berusaha bangkit, menulis kegelisahannya, berjuang membela hak-haknya sebagai kaum perempuan pribumi yang disadari ataupun tanpa disadari, kaum perempuan pribumi masih terbelenggu oleh dogma feodalisme dan penjajahan Belanda. Dalam keterpurukan itu, Kartini berteriak melalui tulisan “diary”nya dan di suatu hari tanpa diduga gaungnya sampai ke negeri seberang, negeri penjajah dan hal itu memberi semangat terhadap dirinya dan kaum perempuan pribumi.

Buku ini juga mengandung ide-ide terobosan dari Kartini dalam perjuangannya membela kaum perempuan yang selama ini tak dipandang, dikaji lebih dalam. Rasa nasionalisme suci Kartini mampu mengantarnya ke panggung internasional, bahwa perempuan juga bisa berpikir layaknya laki-laki, dan hal itu membuka mata dunia internasional yang selama ini terkungkung dogma Patriarki. Otomatis ide-ide tersebut mampu menjadi inspirator bagi kaum pribumi. Salah satu idenya adalah, Kartini mempromosikan hasil kerajinan anak pribumi, ukiran Jepara yang khas. Tuliian Kartini tentang ukiran Jepara mampu menembus pangsa pasar Eropa, dan hasil kerajinan ukiran Jepara banyak diburu orang Eropa, yang berdampak positif bagi perekonomian pribumi waktu itu.  Tak berhenti di situ,  segala kasus apa pun yang menimpa kaum pribumi Kartini berusaha angkat melalui penulisan dan dikirimkan ke media, alhasil banyak karya Kartini dimuat dan dibaca. Dari situlah Kartini ingin membuka mata Internasional, bahwa anak-anak Pribumi mampu berbuat sesuatu, mampu menghasilkan sesuatu meski kehidupannya dalam penindasan. Dari tulisan Kartinilah, banyak negara-negara Eropa yang simpati dan mendukung antidiskriminasi dan mengecam penjajah Belanda.

Bahasa yang digunakan Pram menggunakan bahasa formal, jernih dalam menjadi “tangan panjang” pemikiran Kartini.  Penelitian yang detail dan rinci ini mampu memberikan informasi yang akurat bagi pembaca bahwa sosok Kartini tidak hanya berkutat pada dunia “pingitan” namun sadarlah bahwa ada misi suci dari Kartini dalam melawan penjajah Belanda dan kaum feodal yang mengangkangi ratusan tahun kaum pribumi. Itu semua menurut Kartini hanya satu penyebabnya yaitu, kebodohan. Maka dari itu satu terobosan lagi yang dilakukannya adalah mendirikan sekolah agar anak didiknya sanggup membaca dan menulis sehingga tak ada yang bisa menipu mereka lagi. Lebih tepatnya menipu harga diri martabat mereka sebagai kaum pribumi.

Buku ini meskipun sayang tidak lengkap, hanya dua jilid namun semoga mampu menjadi pencerahan bagi pembaca yang menginginkan kemajuan di bidang apa saja. Sepertihalnya kemajuan di bidang perempuan yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh perempuan di tanah air, sebut saja Fatmawati, Megawati, Ainun Habibie, yang ketiga menjadi motor penggerak pemikiran perempuan di bidang politik yang mampu menggerakkan arah bangsa melalui pemikiran-pemikiran mereka. Pesan penting Kartini kepada kaumnya, ”Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!” ujar Kartini.

(ipung_sa/Kitareview.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here