Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

0
1306

lalu hanya remah air matamu sesuatu yang kau buang dan kukekalkan dalam ingatan yang kelak, mungkin, kau rindukan dan saat itu kau akan mengerti, yang paling berharga tak bisa dimiliki Deja vu, Iswadi Pratama

Data Buku

  • Judul Buku : Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
  • Jenis Buku : Novel
  • Genre : Fiksi
  • Penulis : M. Aan Mansyur
  • Penerbit : GagasMedia
  • Cetakan Pertama : 2015
  • Bahasa : Indonesia
  • No ISBN : 9797808165

Sinopsis

Kau percaya masa depan masih memiliki kita?

Akan selalu ada kita. Aku percaya.

NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali-kali melakukannya. Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.

Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.

Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan. Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada. Menepikannya ke liang lupa. Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman-halamannya.

Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga

Review

Siapa yang tidak mengenal M. Aan Mansyur. Salah santu kunci betapa Rangga AADC digilai kaum hawa karena puisinya. Benar Aan MAnsyur adalah sosok yang bersenandung melalui puisi puisi Rangga AADC 2. Namun pada kesempatan kali ini saya tidak akan mereview Aan Mansyur dalam AADC2 yang termasyur. Saya akan mereview Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi yang juga miliknya.

Menceritakan kisah Jiwa Matajang dan Kinan Nanti.Jiwa, seorang lelaki yang berprofesi sebagai penulis, mencintai Nanti yang menikahi laki laki lain yang merupakan pilhan keluarga. Memang, pada dasarnya kisah mereka sama seperti picisan yang ada dan ditonton pada waktu waktu tertentu. Namun Aan menceritakaan Jiwa dan Nanti jauh dari kata kata picisan.

Jiwa dan Nanti dikisahkan bertemu di kampus Makasar sana, UNHAS. Meraka merasa memiliki kesamaan dan ketidaksamaan. Jiwa menemukan nanti sebagai perempuan yang mencintainya dengan segala peraturan ketat, seperti cara berpakaian, berapa sendok untuk memenuhi nafsu lapar dan dahaga, serta berbagai peraturan lainnya. Meskipun begitu, Jiwa berkata Demi tuhan, aku mencintai Nanti dengan segala energi yang kumiliki.

Nanti menyukai segala hal berbau tulis menulis (hanya) milik Jiwa. Jika mendapati tulisan Jiwa bagus, nanti akan memberikan hadiah berupa ciuman. Namun sebaliknya, jika buruk, Nanti tidak segan segan menghukum Jiwa dengan puasa ciuman sampai Jiwa menulis cerita yang bagus. Itulah yang membuat Jiwa kadang berpikir, tujuan menulis bagus hanya untuk ciuman Nanti.

Nanti merasa saat bersama Jiwa, dia telah memiliki dunia dan isinya. seperti Jiwa, merasa telah menaklukan dunia dan isinya saat bersama Nanti.

Namun kisah ini sama seperti layar kaca, mengenai orang tua yang tidak sepakat pasangan ini saling memiliki dunia dan semesta satu sama lain. Namun aan menuliskan kalimat satu dengan kalimat lainnya seperti membangun imajinasi berlebih mengenai lika liku kisah mereka.

Menangislah. Menangislah. Menangislah. Tidak ada larangan bagi seorang lelaki untuk menangis. Tapi, tidak, aku tidak boleh menangis. Aku lahir pada musim hujan

saya hanya menceritakan salah satu penggalan cerita Jiwa dan Nanti. Novel fiksi ini memang berharga untuk dibaca lembar demi lembar. Bahkan saya merasa, tidak ada yang fiksi tiap babnya. Semua terlalu nyata, semua terlalu sedih. Saya jadi ingat salah satu kalimat yang dilontarkan Ibu Jiwa,seringkali ada kesedihan yang terlampau besar sehingga cuma rahasia yang mampu menampungnya.

Selamat membaca, dan yakinlah, rahasia masa depan akan selalu memiliki aku, kamu, dan kita.

(agdya/Kitareview.com)

Simpan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here