B.O.C.A.H

0
132

B.O.C.A.H

 ..menyodorkan kepada pembacanya sepotong imajinasi masa kanak-kanak yang menyenangkan.
 

DATA BUKU    

  • Judul Buku: B.O.C.A.H
  • Jenis Buku: Komik
  • Genre: Humor
  • Penulis: Ockto – Seta – Bayu
  • Penerbit: M&C!
  • Bahasa: Indonesia
  • Cetakan Pertama: 2010
  • Tebal Buku: –
  • Dimensi Buku (P x L): –
  • Jumlah Volume: 1
  • Webiste Resmi Penerbit: http://www.mnc-comics.com
  • No. ISBN: MNC34506100026
  • Harga: –

KARAKTER UTAMA

  • Beri
  • Badi
  • Idul
  • Ardi

 

 
SINOPSIS
 
B.O.C.A.H menceritakan kepolosan, kenakalan, dan kekreatifitasan Beri, Badi, Idul, dan Ardi. Empat sahabat ini bertingkah layaknya bocah-bocah SD yang selalu senang bermain dan selalu liar berimajinasi mulai dari ide gokil meghentikan tsunami dengan bulan, ide kocak memadamkan kebakaran dengan gelas, sampai membahas kebiasaan orang Indonesia dan orang bule kalau sedang di W.C.!  
 
 
REVIEW
 
Homo Ludens: catatan tentang komik B.O.C.A.H
 
Setelah dewasa – yang secara formal di Indonesia berarti berumur 18 tahun atau lebih – beberapa orang barangkali menyadari bahwa kehidupan yang paling menyenangkan adalah ketika seseorang masuk ke dalam hakikat dirinya sebagai homo ludens: makhluk yang senang bermain-main. Sama dengan khayalan ketika tubuh pergi mengembara, yang bermain mungkin fisik, mungkin juga angan-angan, fantasi, imajinasi, atau entah apa lagi. Ketika masih kanak-kanak misalnya, seseorang senang bermain dengan pistol tiruan yang terbuat dari kayu, seolah ketika memegang benda tiruan itu, ia sedang berdiri melamunkan diri sebagai pengembara berpistol yang pergi menyelamatkan gadis yang parasnya seperti bidadari.
 
Gambaran manusia-manusia yang mencapai hakikat dirinya dengan bermain terpapar dengan jelas oleh tingkah laku empat anak-anak -Beri, Badi, Ijul, dan Ardi- di dalam komik yang diberi judul B.O.C.A.H. Komik ini dibagi menjadi 12 bab yang masing-masing tidak memiliki keterkaitan cerita satu sama lain. Ketika Kita membuka halaman demi halaman dan mengamati panel demi panel di komik ini, di sana pula terpapar dunia yang penuh andai-andai. Imajinasi menjadi simpul temanya, dan permainan merupakan roda cerita yang menggerakan tubuh dan pikiran keempat anak itu. Jangan bertanya tentang logika di dalam komik ini, sebab pengandaian terkadang durhaka terhadap logika. Begitu pula dengan komik yang ada di hadapan Kita ini, ia ikut mendurhakai logika.
 
Ke empat tokoh yang dihidupkan oleh tiga komikus: Ockto, Seta, dan Bayu tersebut bermain-main dengan imajinasinya di alam modern: toilet di mall, jalan raya di perkotaan, lapangan sepakbola, kompleks perumahan, dan stasiun peluncuran roket. Semua setting penceritaan itu turut dibaluri oleh tingkah laku ke empat tokoh yang sangat aktif dalam bermain-main dengan tubuh dan imajinasinya, hingga halaman demi halaman yang ada menampakkan kenakalan dan keisengan anak kecil yang tingkah lakunya terkadang sulit diterima oleh orang dewasa yang kebetulan menjadi “korban” kenakalan mereka berempat. 
 
Agaknya komik ini memang sedari awal bermaksud menyajikan sejumlah epos cerita yang akan mampu membuka memori kolektif sebagian pembaca dewasa tentang masa kecil yang penuh andai-andai, meskipun tidak hanya itu yang disajikan. Di luar perandaian, romantisme antara ibu dan anak, kisah Badi yang mengalami culture gap, sekaligus kisah cinta monyet antara dua insan yang bertepuk sebelah tangan merupakan sebagian unsur cerita yang dilukiskan dengan baik sehingga komik ini tidak melulu menghadirkan imajinasi yang sulit dicari bentuk konkretnya.
 
Akan tetapi, Kita harus buru-buru menambahkan bahwa tidak semua aspek imajinasi masa kecil yang ada dalam komik ini terasa mengena bagi para pembaca. Perasaan janggal bisa saja tiba-tiba hadir, terutama ketika beberapa bagian humor yang disajikan sebagai bagian dari plot cerita dalam komik ini terasa naif, jika tidak ingin dikatakan berlebihan. Begitu pula dari segi penokohan, Beri agaknya merupakan salah satu tokoh utama yang diberi porsi jauh lebih banyak dibandingkan lainnya. Sebagian besar sudut pandang cerita di komik ini mengambil Beri sebagai tokoh sentral hingga unsur sifat dan tingkah laku tiga anak lain yang sebetulnya juga dimaksudkan sebagai tokoh-tokoh utama kelihatan hanya disajikan sebagai aktor figuran yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengeskplorasi watak-watak yang dimilikinya.
 
Apa yang paling tidak bisa Kita tangkap setelah membaca komik ini adalah ketika bermain-main, yang paling enak adalah mengadakan dialog dengan diri sendiri. Menarik bulan keluar dari orbitnya merupakan angan-angan imajiner, tidak lebih dari sebentuk dialog dengan diri sendiri. Masa kecil adalah sepotong dunia penuh imajinasi: memadamkan kebakaran dengan gelas raksasa, jatuh cinta untuk pertama kalinya, mengisengi kaca spion mobil kepunyaan orang lain, atau bermimpi menjadi orang Amerika; semua adalah sumber fantasi yang tak ada habisnya. Bahkan ketika tubuh dan jiwa ini beranjak dewasa, berandai-andai adalah hal yang paling menyenangkan, kalau tidak memabukkan, membuat kita lupa akan kenyataan. Komik ini, terlepas dari ke-tidak masuk akal-an yang disodorkannya, tetaplah menyodorkan kepada pembacanya sepotong imajinasi masa kanak-kanak yang menyenangkan. 
(Loki_Reds/Kitareview.com)
SHARE
Previous articleKotagede Dalam Komik
Next articleDharmaputra Winehsuka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here